Pernikahan adalah fakultas kesabaran dr universitas kehidupan. Jika ingin menjadi orang yang sabar maka masukilah dunia pernikahan. Krn di dlm mengarunginya kita hrs menyiapkan segudang persediaan memaafkan dan meminta maaf. Jika kita menempatkan pernikahan sebagai tempat berdampingan ikhwan & akhwat dlm mahligai perkawinan, sebenarnya sekaligus tempat berdampingnya mereka dlm tugas2 kemasyarakatan, krn hal ini adalah bagian yg tak ter pisahkan.

Menikah adalah 1 noktah dr perjalanan yg panjang. Dengan menikah akan membuat kita tetap berada pada rel perjuangan dan berusaha meningkatkan kualitas dan kuantitas perjuangan itu sendiri

Jika seorang akhwat sdh memasuki dunia ini maka waktunya bukan lagi mutlak milik dirinya sendiri. Dia sudah berubah status menjadi istri bagi suaminya, ibu bagi anak2nya dan sekaligus da’iyah bagi lingkungannya.

Disinilah dibutuhkan satu kejelian dlm menentukan seorang pendamping hidupyg benar2 pilihan. Pendamping hidup yg ideal bagi kita bukan berarti dia hrs unggul atau menonjol. Tetapi pasangan yg tepat , yaitu yg sesuai dgn bingkai dan kepribadian kita. Sebab telah terbukti bhw, tdk semua orang cerdasmembutuhkan orang cerdas lainnya. Tidak semua pria gagah memerlukan wanita cantik sebagai pendampingnya. Kita ambil contoh Rasulullah SAW, diantara istri2 beliau yg paling menonjol kecerdasannya hanyalah Aisyah. Sedangkan yg lainnya bgtu bersahaja. Amirul Mukminin Umar bin Khatab pun dmkian, di dlm pemerintahan beliau lbh dikenal dgn sikap yg keras & tegas. Tapi di dlm rumah beliau spt anak kecil yg manja thdp istri2nya.

Disini bkn berarti kita tdk boleh memiliki bbrp patokan kriteria dlm memilih seorang calon suami. Akan tetapi setidaknya kita jgn sampai membuat satu patokan yg bisa membuat para ikhwan itu sendiri berpikir seribu kali untuk berta’aruf dgn kita apalagi punya hasrat untuk membina rumah tangga. Satu ketakutan terkadang muncul dlm diri ikhwan yg sebenarnya sdh “siap” untuk menikah scr fisik dan materi, tp scr mental sebenarnya mrk masih “jauh”.

Apagunanya kriteria kt yg terkadang dg susah payah mrk wujudkan kalau para ikhwan itu niatnya hanya untuk mendapatkan kt saja. Alih2 suami hafidz tapi dia menghapal Qur’an hanya sebagai pemenuhan atas syarat yg kt ajukan saja.

Disini yg perlu diluruskan adalah niatan & tujuan mulia kita yg memutuskan untuk menikah yg bener2 hanya mengharap ridho krn Allah SWT dan untuk menyempurnakan separuh dien.

Penyamaan dan penyatuan visi, misi dan konsep ttg pembentukan suatu keluarga yg sakinah mawaddah dan rahmah adalah satu hal yg sangat penting sebelum kita mengambil keputusan akhir dgn siapa dan orang seperti apa kita akan menikah. Kesatuan fikrah dan prinsip adalah hal yg sangat mendasar dan urgent demi tetap eksisnya satu ikatan rumah tangga. Karena pernikahan bukan hanya merupakan satu ikatan fisik tapi juga mrpkan satu ikatan batin antara 2 jiwa yg akan menjadi pendidik bagi keturunannya dimana semua itu hrs dipertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT. Maka dlm prosesnyapun diperlukan satu persiapan dan cara yg benar2matang dan sesuai syariat islam tentunya.

Menikah bukan hanya bertemunya seorang lelaki dan perempuan saja tp juga merupakan tempat bertemunya 1 partner dakwah baru yg akan lebih menyempurnakan usaha perjuangan dakwah yg selama ini hanya dilakukan scr individu. Dan dgn pernikahan diharapkan akan lahir satu ikatan perjuangan dakwah yg kokoh dan kuat. Akan timbul satu kewajiban yg tak terelakkan dalam beramar ma’ruf nahyi munkar. Intinya jgn sampai krn menikah justru ghirah juang dakwah kita surut bahkan hilang sama sekali. Saling mengingatkan antara keduanya saat lalai. Menjadi sandaran dan tempat berlindung serta tempat mendapatkan kenyamana hidup dari beratnya medan dakwah dalam kehidupan.

Menikah jg merupakan media tarbiyah diri yg akan terus berlangsung seumur hidup. Karena puncak masalah dlm pernikahan bukanlah dg siapa kita akan menikah tapi bagaimana kita bisa tetap survive dlm perkawinan tersebut, siapapun pasangan kita kelak.

Perbedaan kultur dan latar belakang budaya tak jarang dapat menjadi kerikil tajam dalam mengarunginya. Disinilah diperlukan satu tarbiyah ruhiyah yg dilakukan scr rutin dan kontinu agar jiwa dan ruhiyah mendapat transfer positif saaat menghadapi pelik persoalan rumah tangga. Tarbiyah dzatiah ini akan menjadikan jiwa kita terbina, sehingga kita akan terbiasa menghadapi masalah yg timbul sesulit apapun. Satu pribadi yg telah di tarbiyah dgn baik akan menjadi sosok pribadi yg tangguh dan tegar dlm kehidupan. Dia akan dpt memahami satu pokok masalah sbg satu ujian  kehidupan dan sebagai ukuran  tingkatan sejauh mana dirinya mampu mengaplikasikan ilmu yg selama ini ia dapatkan dlm setiap kajian tarbiyah.

pernikahan bukanlah puncak dari satu tujuan kehidupan. Justru pernikahan adalah satu titik awal perjalanan panjang yg di dlmnya terdapat begitu byk ujian dan rintangan.  Untuk menjalaninya diperlukan  satu kesiapan jiwa yg benar2 telah terlatih dan terbina untuk bs selamat sampai tujuan akhir yaitu mncapai keridho’an-Nya. Maka dari itu menyegerakan untuk menikah bukan berarti tergesa2 dlm mengambil keputusan. Karena hidup ini terlampau singkat untuk dilewati dgn pilihan yg salah. Ketepatan pemilihan pasangan , kesiapan jiwa dan raga serta pengasaan ilmu tentangnya haruslah kita pahami dgn sungguh2. Karena suatu perkawinan adalh 1 ikatan yg suci dan muliayg tidak hanya menyangkut kehidupan kita di dunia saja tapi juga menentukan kehidupan kita di akherat. Karena pasangan kita yg baik dan sholeh di dunia, insya Allah akan tetap menjadi pasangan kita kelak di syurga. Amiii…n

Taken from: The letter of my dear sist🙂