Beberapa waktu yg lalu ada pasien datang, perempuan 17 th datang dengan keluhan febris(demam tinggi) dan kesadaran menurun. Riwayat kerja di Jakarta (kota metropolitan) pulang ke Madiun karena sakit. Dokter langsung curiga dan minta persetujuan keluarga pasien untuk cek HiV. Siang hari hasil Lab jadi ternyata hasil reaktif alias positif. Keluarga (ibu & bibi pasien) dipanggil ke kantor untuk di beritahu. “Ibu, putrinya positif kena HiV Aids. Ibu tau ngga’ HiV Aids itu apa?. Dengan agak bingung ibu itu bilang ” Ya tau, Aids itu kan yang tiap bulan datang sama wanita itu kan?”. Ganti dokternya yang bingung “Hah…?”. Terus saya bilang “Oh mungkin yang dimaksud Haid, ya bu?”. Sang ibu mengangguk ” Ya, yang tiap bulan itu kan?”

Kejadian diatas mungkin terdengar lucu ( meskipun saya sempat tertawa juga). Tapi setelah saya pikir2 lagi kasihan keluarga pasien ini anak perempuannya pergi ke Jakarta untuk kerja ternyata pulang dalam keadaan sakit, dan tidak sadar pula. Tanpa tahu sebabnya. Sebenarnya saya juga heran padahal HiV Aids sudah sampai ke desa dan kampung2 tapi sebagian besar masyarakat masih belum tau ataupun paling tidak pernah mendengar penyakit tersebut lewat media telekomunikasi (hampir tiap rumah ada televisi kan?). Tapi mungkin tingkat pendidikan masyarakat juga yang kurang. Padahal memang betul Aids itu seperti fenomena gunung es, ujung nya saja yang kelihatan sedikit padahal, yang dibawah air luas sekali. Dan masa inkubasi HiV yang tidak tentu di imbangi obat yang belum ditemukan. Hiv Aids mungkin bisa di cegah, tapi siapapun tanpa sadar bisa saja tertular.

Ada juga pasien seorang wanita baik2 tertular hiV hanya karena suaminya seorang supir yang suka ‘jajan’ . Tanpa tau dia ikut tertular ;_( . Ada juga bayi umur 1 th sakit diare berkepanjangan tanpa tau apa yang  pernah dilakukan  orangtua nya (karena orang tuanya sudah meninggal krn Hiv juga) . Astgfirullah aladzim…