Taaruf disini dapat diartikan proses perkenalan dlm rangka mengetahui lebih dlm ttg calon suami ato istri. Dalam islam proses taaruf tidak sama dgn istilah pacaran. Dalam berpacaran sdh pasti tdk bs dihindarkan kondisi 2 insan berlainan jenis yg berkhalwat(berduaan). Yang mana dpt membuka peluang terjadinya saling pandang atau bahkan saling sentuh, yg sudah jelas semuanya tdk diatur dlm islam.

“Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik, daripada menyentuh wanita yg tidak halal baginya” (HR. Thabrani dan Baihaqi)

Allah SWT berfirman ‘Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yg keji dan suatu jalan yg buruk’ (QS 17:32)

Taaruf untuk tujuan menikah disyariatkan dalam Islam. Rasulullah menyarankan mengenal calon pasangan hidup kita, bagaimana agamanya, akhlaknya, wajahnya, keturunannya dsb. Apa yg dilakukan hrs tetap pada jalur2 yang sesuai syariat islam yg mengacu pd Al-Quran & Hadist.

Ta’aruf yg biasa terjadi di kalangan ikhwan/akhwat melalui perantara, bisa teman dekat orang tua atau murobbi/guru ngaji. Biasanya adanya pertukaran biodata dr kedua belah pihak. Istilahnya proposal menikah. Biodata ini berisi, data2 dr data pribadi sifat kelebihan/kekurangan hingga penyakit yg pernah diderita. Bila sdh setuju, maka proses dilanjutkan dgn nazhar (saling melihat). Dari Jabir disebutkan, Rasulullah SAW bersabda ” Jika salah seorang diantara kalian meminang seorang perempuan, sekiranya ia dpt melihat ssuatu darinya yg mampu menambah keinginan untuk menikahinya, maka hendaklah ia melihatnya” (HR. Abu Dawud & Hakim)

Dan dlm proses ini, dlm bertemunya haruslah ditemani oleh mahramnya shg pembicaraan dpt tetap terarah. Rasulullah SAW bersabda : ” Janganlah sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dgn seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya” (HR. Ahmad & Bukhari)

Hal-hal yg dibicarakan mencakup visi, misi dan komitment dlm berumah tangga dan juga ttg kecerdasan emosi yg mencakup sifat/pribadi masing2. Misalnya : jika setelah menikah nanti apakah si akhwat boleh bekerja, atau melanjutkan kuliah.Apakah setelah menikah pasangan ini tinggal di klg pihak istri atau suami, apa yg disukai atau tidak disukai bagaimana emosinya serta kepasrahan/tawakal saat menghadapi persoalan sulit dll.Yang jelas kata2 yg digunakan tdk berbau maksiat atau yg dapat mengumbar syahwat seperti kata2 orang berpacaran.

Selama proses ta’aruf ini perlu mencari informasi tentang calonnya baik akhlak sifat maupun hal lain yg dianggap penting. Hal ini sangat penting untuk diketahui agar tidak menyesal setelah menikah nanti. Cara untuk mendapat informasi bisa melalui orang2 terdekatnya yg pernah tinggal dgn lebihdari 24 jam. Misal teman kost atau satu kontrakan karena mereka pasti tau sifat dan keseharian yg baik atau yg buruk, siapa temannya dan dgn siapa dia bergaul. Karena siapa temannya mencirikan siapa orang tersebut. Orang baik tentu akan berteman dgn orang baik.

Untuk deadlinenya rata2 maksimal 3 atau 4 bulan. jika lebih dikhawatirkan lebih banyak mudaratnta bahkan bs menjurus ke pacaran. Jangka waktu ta’aruf yg sebentar ini tdk akan berpengaruh pd hati.

Daya nalar manusia dalam menilai sesuatu dapat salah. sesuatu yg kita anggap baik belum tentu baik menurut Allah. Ssuatu yg kita yg kita anggap buruk belum tentu buruk menurut Allah. Allah yg lebih tau yg terbaik buat kita.

Semakin kebingungan mendera semakin seringlah kita beristikharah. sesungguhnya manusia itu sangat lemah, diberi susah sedikit pasti sudah mengeluh. Dengan siapa lagi kita memohon petunjuk dan menaruh segala harapan, kalau tdk hanya kepada Allah SWT. Dia yg menciptakan kita dan Dia juga yg mengetahui segala nasib kita baik maupun buruk.

Khitbah

Jika kitaa merasa co2k , siap dan ikhlas dapat menerima kelebihan dan kekurangannya maka keputusan dapat diambil yaitu “setuju”.Dan sebelum menginjak pelaksanaan nikah, maka hrs didahului oleh pelaksanaan khitbah. Yaitu permintaan dari laki2 kpd wali dan keluarga pihak wanita. Dalam islam, wanita yg sdh di khitbah oleh seorang lelaki, maka tidak boleh dikhitbah oleh lelaki lain. Rasulullah bersabda ” Janganlah kamu mengkhitbah wanita yg sdh dikhitbah saudaranya, sampai yg mengkhitbah itu meninggalkannya tau memberinya izin. (HR. Muttafaq alaihi)

Khitbah adalah muqaddimah (permulaan) pernikahan dan disyariatkan Allah sebelum terjadinya aqad nikah agar kedua calon pengantin mengenali calon pasangannya satu sama lain.Sehingga ketika maju pada proses ajad nikah dia dlm kondisi telah memperoleh petunjuk dan memiliki kejelasan (ttg calonnya)

Dalam khitbah diperbolehkan saling memberi hadiah. Tetapi bukanlah suatu yg wajib.Suatu kesalahan di masyarakat, banyak diantara mereka yg menganggap bahwa ketika sdh di khitbah seolah2 sdh menikah. Sehingga kerapkali melakukan hal2 yg dilarang agama.Khitbah adalh proses muqadimah untuk menikah dan blm terjadi pernikahan. Oleh krn itu untuk menghindari kemaksiatan dianjurkan agar jarak antara waktu khitbah dan aqad nikah tidak terlalu lama sehingga calon istri tdk berada dlm kondisi lama menanti. Wallahu A’lam Bishawaab

About these ads